Ramah itu indah dan menyenangkan

Secantik apapun atau setampan apapun seseorang, jika ia termasuk orang yang judes, ketus, pemarah, pasti akan hilanglah segala keindahan fisiknya. Bahkan bisa jadi yang tampak adalah kebalikannya, wajah yang tidak sedap dipandang, sikap yang menyebalkan dan tentu saja orang enggan berakrab-akrab dengannya.

Adapun sebaliknya, kita sering pula berjumpa dengan orang yang penampilan luarnya biasa-biasa saja namun tampak bersahaja, dan tampak begitu manis serta menyejukkan. Kita yang bergaul dengannyapun akan merasa nyaman dalam memandang dan mendengarkannya.
Orang yang baik adalah sosok pribadi yang tampil dengan segala keramahannya dan bersikap santun kepada siapapun. Ia tak memerlukan make-up yang tebal, jas yang keren atau atribut-atribut mahal untuk menutupi kekurangannya, karena keindahan hakiki itu tidak terletak pada topeng yang kita kenakan, sebagus apapun aksesori tubuh kita, melainkan terdapat pada isinya – pada hati kita yang bersih. Itulah keindahan hakiki.

Tetapi tentu saja kita yang biasa-biasa saja – baik penampilan maupun harta dan pangkat – tidak perlu merasa pesimis dan kecewa. Sebab, kita masih bisa menampilkan keindahan yang mengesankan buat siapapun, kuncinya adalah dengan menjadi orang yang selalu tampil ramah, sopan dan tulus.

Percaya atau tidak, Anda sangat terkaget-kaget, ternyata biang kesusahan itu bukan terletak semata-mata pada masalah yang sedang dihadapi, melainkan terletak pada sikap kita dalam menghadapi masalah tersebut.
Orang yang emosional, sebenarnya tidak sedang menyelesaikan masalah dengan baik, melainkan sedang mempersulit diri. Terkadang banyak

masalah yang sepele dan sederhana menjadi rumit dan sangat merugikan. Tentu semua ini terjadi disebabkan oleh pribadi yang jauh dari kebeningan hati, dan akibatnya sudah jelas, suasana batin akan selalu lelah, tegang, jauh dari ketenangan dan kebahagiaan. Kondisi seperti ini jelas akan berpengaruh kepada perilakunya, sebab reaksi apapun yang kita tampilkan tak akan jauh berbeda dengan suasana hati.

Untuk itu, cobalah hadapi hidup ini dengan penuh semangat, pasang wajah yang cerah dan jernih, senyumlah dengan wajar dan tulus, temuilah orang lain dengan sikap yang sopan dan santun, dan sapalah dengan ramah serta penuh penghormatan, niscaya anda akan kaget! Ternyata beban yang menghimpit hati ini akan terasa jauh lebih ringan dan lega. Semangat untuk menghadapi persoalan – pun akan berlipat ganda, apalagi ketika orang lainpun membalas keramahan kita, tentu semua itu akan menjadi tambahan energi dalam menghadapi aneka persoalan rumit yang menghadang.

Memang keramahan itu sangat menyenangkan, tak hanya bagi orang lain yang melihatnya, tapi terutama sekali bagi diri kita. Bukankah kita menginginkan hidup ini menyenangkan dan bahagia?

Marilah kita mulai dari sikap yang paling murah dan paling ringan tapi paling cepat dirasakan hasilnya — hidup menjadi orang yang ramah dan santun kepada siapapun. Ok. hehehe

“Sebenarnya apa sih tujuan & tugas hidup manusia selama di dunia???

Setiap manusia haruslah mengetahui siapa dirinya, kenapa dia dilahirkan, dan apa tujuan dan tugas-tugas hidupnya, berapa lama dia bisa hidup di dunia ini, dan kemana dia pergi setelah meninggalkan dunia ini?

Kalau manusia tidak bisa menjawab dengan benar, maka hidupnya seperti manusia yang hidup di hutan-hutan yang menutup auratnya dengan daun daunan. Mereka tidak berilmu.

Orang orang yang tinggal di kota pun banyak yang tidak mengetahui tujuan & tugas hidupnya. Ada yang mengatakan untuk mencari hidup yang bahagia, berkeluarga serta membesarkan dan mendidik anak-anak mereka.

Ada yang mengatakan untuk beribadah kepada Allah dengan menjalankan shalat, puasa,naik haji dan berzakat. Kalau rukun islam ini sudah dikerjakan,sudah merasa berislam yang benar. Apakah itu sudah sempurna???.

Untuk mendapatkan jawaban yang benar mari kita lihat Al-Quran yang di buat oleh Allah. Yang mana Allah juga menciptakan manusia, sudah tentu Allah lah yang Maha Tahu akan ciptaannya bukan?

Selama ini kita sering mendengar dari ulama ataupun para ustadz/ustadzah yang menjelaskan bahwa tujuan hidup manusia adalah untuk beribadah kepada Allah sebagaimana ayat QS 51:56 menjelaskan:
“ Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku”.

Beribadah kepada Allah diartikan menyembah (shalat) kepada Allah, berpuasa, naik haji, berbuat kebaikan, dll.Kalau sudah menjalankan rukun islam ini, maka mereka sudah merasa beragama dengan benar.
Sesungguhnya bukanlah demikian menurut Allah. Penjelasan seperti diatas itu belum lah sempurna, sehingga hasilnya pun juga tidak sempurna..

Beribadah kepada Allah bukanlah menyembah Allah saja, bukan menjalankan rukun islam yang lima saja, dan berbuat kebajikan saja, tetapi maknanya jauh dari itu.
Beribadah kepada Allah SWT artinya mengabdi atau bekerja untuk Allah dengan sungguh-sungguh.

Kita sudah tahu apa tujuan hidup kita yaitu mengabdi atau bekerja untuk Allah.
Mari kita lihat pula dalam Al-Qur’an, apakah tugas-tugas hidup manusia di bumi ini sebagi pengabdi dari Allah?

Inilah tugas hidup manusia seperti yang disabdakan oleh Allah SWT:
“Dialah yang telah menciptakan kamu dari bumi (tanah), dan menjadikan kamu pemakmurnya. (QS.11:61).

Artinya sobat, kita sebagai penghuni bumi harus mengolah hasil bumi dengan baik untuk kemakmuran umat manusia juga tidak merusak bumi ini, kasian loe dirusak terus, nanti kita mau tinggal dimana, kalau bumi udah tidak bisa diambil manfaatnya lagi. Hm…..
Nanti setiap manusia akan diminta pertanggung jawaban. Siapa yang rajin bekerja untuk Allah dan siapa aja yang malas bekerja untuk Allah.

Sebagai hamba Allah yang baik maka kita wajib memakmurkan atau merawat seisinya yang diberikan oleh Allah itu baik yang ada di dalam bumi maupun di kulit bumi.

Mohon di perhatikan perintah Allah ini dengan baik;
”Dan Kami ciptakan besi (dan perak, emas, almunium tembaga, minyak, dll) yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia (untuk di-olah), dan supaya Allah SWT mengetahui siapa yang menolong agama Nya (Islam) dan Rasul-rasul padahal ALLAH swt. tidak dilihatnya. (QS..57:25).

Bagaimana untuk mengolah , mendirikan industri, membuat barang yang bermanfaat dan untuk membuat senjata kalau tidak mempunyai ilmu? Makanya Allah memerintahkan untuk menuntut dan belajar bermacam macam disiplin ilmu. Bukan belajar ilmu agama saja sebagaimana di artikan oleh sebahagian golongan umat islam.

Inilah perintah Allah berikutnya;
“Allah akan meninggikan orang orang yang beriman di antara mu dan orang orang yang menuntut ilmu pengetahuan (belajar) beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.(QS.58:11)
Artinya kalau Allah mewajibkan umat islam belajar atau menuntut ilmu, maka umat Islam seharusnya pula membuat sekolah bukan?

Tidak mungkin belajar di luar dengan atap langit dan dipadang pasir. Dan untuk belajar harus ada sekolah, buku-tulis, pena, pencil, pengapus, bangku bangku, kapur, alat-alat penerangan,tidak mungkin munulis di tanah dengan jari sebagai alat tulis bukan?.

Untuk membuat buku-buku tulis harus pula menanam pohon-pohon kapas untuk bahan baku kertas dan kain baju, kemudian membuat pabrik kertas dan kain, serta alat-alat transportasi: sepeda, mobil, dan seterusnya.

Dengan kata lain umat islam harus belajar bermacam disiplin ilmu untuk bisa membuat industri kain untuk menutupi tubuh dan kertas, bisa membuat pena,pensil,alat penerang alat tranportsai, membuat senjata dll.

Setiap individu muslim harus bekerja keras dan menuntut ilmu sebanyak-banyaknya,agar kehidupan individu musli kuat dan sehat. Kalau keluarga sehat dan kuat ekonominya, maka bangsa juga akan kuat ekonominya. Jadi semua itu harus dimulai dari setiap muslim. Dari diri sendiri.

Yang akhirnya membawa umat islam kearah kemajuan dan memberikan lapangan kerja yang banyak untuk pemuda dan pemudi agar mereka dapat meningkatkan kemakmuran, kesejahteraan, keamanan, keharmonisan, dan akhirnya umat islam dapat hidup bahagia, aman sentosa. Indah sekali ajaran islam bukan?

Jadi islam adalah ajaran yang membawa kemajuan dalam segala aspek kehidupan terutama bidang ekonomi, technologi dan Science..

Ulama-ulama adalah tiang /tonggak kemajuan umat islam. Kalau ulama-ulama salah memahami ajaran-ajaran islam,maka umat akan salah pula, kalau ulama-ulama benar memahami ajaran-ajaran islam,maka umat menjadi umat yang benar pula, artinya umat menjadi umat yang maju ekonominya, technologi berkembang pesat juga menghasilkan banyak lapangan kerja.

Sekiranya ulama-ulama dapat menyampaikan apa tujuan hidup manusia yang sebenarnya menurut Allah kepada umat, maka pemuda-pemudi islam akan belajar rajin dan bekerja sungguh-sungguh untuk Allah dengan sebaik baiknya.

Kalaulah setiap muslim sudah mengetahui, maka setiap muslim akan takut (taqwa) kepada Allah ketika mereka tidak bekerja dengan rajin dan sungguh-sungguh untuk memakmurkan bumi Allah. Maka lihatlah ayat berikut ini: .”….Sedangkan Allah Maha Melihat apa yang dikerjakannya (setiap waktu)”.QS.57:25.

Kemudian perintah Allah berikutnya adalah menjadi seorang Khalifah.
Orang-orang yang beriman, berilmu dan sudah tahu cara bekerja untuk Allah yaitu memakmurkan bumi ini,maka dia diminta untuk menjadi seorang khalifah dalam masyarakatnya.

Dia mengajak dan membimbing masyarakat untuk bekerja rajin memakmurkan bumi Allah artinya memakmurkan masyarakat, memberikan lapangan kerja kepada pemuda dan pemudi, mendirikan sekolah,

bermacam disiplin ilmu agar setiap muslim bisa pula menjadi seorang khalifah atau pemimpin dalam kelompok nya. Seperti yang dicontohkan oleh Aa Gym.

Inilah perintah Allah itu.
“Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi”. (QS.35:39.)
“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah dimuka bumi ini”QS.2:30

Jadi sobat, begitu luas makna hidup ini. Yang penting bagaimana caranya agar kita bisa mengatur dan memanfaatkan waktu kita yang hanya sekali ini untuk bisa beribadah kepada Allah SWT… hehe thank you….

RAMAH


Aduuuh, cape ya Sharing cinta mulu, hehe. Bikin pusing??? Waw, sampe segitunya haha. Dari pada sharing tentang cinta ataupun yang terkait dengan itu, mendingan kita sharing yang lebih bermanfaat aja ya, emang sharing tentang cinta gak bermanfaat gitu??? Bermanfaat, cuman gak ada salahnya juga kan sharing tentang yang lain….emang mau sharing apa gitu? Rame gak? Insyaallah bikin hati terngiang-ngiang. Waduh, kaya banyak nyamuk aja terngiang-ngiang. Udah yu kita langsung aja ok, let’s go…..

Sobat tau gak, kalo kita mendengar pribadi seorang nabi, rasul, para ulama atau orang yang bijaksana lainnya, yang terbayang apa coba? Ayo apa ayo? Tau gak? Pasti yang terbayang adalah pribadi-pribadi yang berakhlak mulia. Betul kan??? Hehe. Dan salah satu dari akhlak mulia itu sobat yaitu terpancarnya keramahan, emang apa sih ramah itu? Jadi penasaran….ramah itu yaitu sikap yang baik, tutur kata yang santun, wajah yang jernih, serta sikap yang arif dan bijak….itu yang dinamakan ramah teman, haha jadi pingin ya.

Sobat, siapapun yang bergaul akrab dengan mereka, pasti deh akan merasakan suasana aman, menyenangkan, dan menentramkan. Kok bisa ya??? Ya, iyalah. Soalnya pasti bikin hati kita tenang sampe-sampe bikin kita suka sama dia, itu juga kalo lawan jenis. Kalo sama, bisa jadi sahabat. Iya kan? Hehe. Eh kenapa jadi kesitu ya? Baik kita lanjut lagi, ok. Sobat, orang yang ramah itu ya pasti bakal dikenang dan bahkan ketika berpisah pun akan menimbulkan kerinduan untuk berjumpa kembali dengannya….aduh jadi sediiiih nie. 

Nah, beda lagi kalo kita mendengar kata para penjahat, orang durhaka, manusia yang tidak disayang oleh Allah. Apa coba yang terbayang??? Pasti wajah bengis, dengan sorot mata tajam dan dingin, bibir tanpa senyum dan monyong lagi. Aduuuh jangan dipikirin deh yang monyong mah ya.itu mah udah takdirnya begitu, hehehe. Pasti takut dan menyeramkan kan???? Hohoho. Bener gak? Kalaupun tersenyum juga pasti yang tercipta adalah senyum kesinisan, sobattt. Ih jadi takuuut. Kata-kata yang keluarpun bisa jadi kata yang ketus, kotor, kasar, dan tentu penuh kesombongan serta perilaku yang menyakitkan. Waduh, jadi ngeri ya bacanya,,,biasa aja kalii. Sobat tau gak bagi orang-orang baik tentu tidak terbayang sedikitpun ingin akrab dengan mereka. Betul gak? Karena rasa-rasanya tak akan pernah merasa aman dan bahagia bergaul dengan mereka. Oooh gitu ya?.

Pertanyaannya adalah? Seperti apakah kira-kira penampilan sehari-hari diri kita? Tau gak sobat??? Seperti contoh yang mana coba? Yang pertama atau yang kedua? Syukurlah jika kita bisa jujur menilai diri sendiri, hehe. Tapi kalau diri sendiripun belum sanggup melakukannya kita bisa tanyakan nih kepada orang-orang yang sering dekat sama kita, yang juga mengetahui perilaku kita sehari-hari. Emang kenapa gitu? Soalnya mereka bisa menilai perilaku yang baik maupun yang buruk terhadap perilaku kita sehari-hari. Oh gitu ya, belum tau hehe

Hal ini soalnya sangat penting sekali agar kita tak terkecoh oleh penilaian diri yang merasa hebat dan mulia namun ternyata dalam pandangan orang lain sangat rendah dan menyebalkan. Gak mau kan sobat kaya begitu??? Betul gak?. Semakin jujur terhadap diri kita pasti akan semakin berpeluang menjadi terhormat dan mulia. Aduuuh jadi pengen kayak gitu…. 

Akankah hidup yang hanya sekali-kalinya ini akan berakhir menjadi manusia yang tidak disukai bahkan disyukuri kematiannya karena orang lain terbebas dari kejelekan kita ??? Naudzu-billah. Pasti temen-temen semua gak mau kan kayak begitu. Semua orang itu pasti pinginnya meninggal dalam keadaan khusnul khotimah, amiin. Semoga aja ya kita ditakdirkan meninggal dalam keadaan yang baik-baik, hehe

Sekali lagi, kita tidak punya pilihan lain, kecuali memilih bergabung dengan orang-orang yang mulia dan terhormat di sisi Allah, walaupun ya harta, gelar, pangkat kita tidak setinggi orang lain. Percaya gak, kalau kita itu akan terbawa dalam keadaan lingkungan kita? Sebenarnya percaya gak percaya sih, tapi yang penting kita bisa menjaga diri ya sobat, hehe. Juga yang namanya kemuliaan manusia itu tergantung dari akhlaknya. Dan salah satu kunci kemuliaan akhlak itu adalah menjadi pribadi yang ramah. Amiin… moga-moga aja ya kita bisa menjadi orang yang ramah disetiap kehidupan kita. 

By: Hadiansyah jejakislami.wordpress.com

Pilih Pacaran atau Jomblo yaa???

Bismillahirrahmanirrahim

Saya tanya kepada orang-orang, manfaat pacaran itu apa sih? ada yang bilang ‘biar nggak kuper’‘biar nggak dibilang nggak laku’‘biar ada cowok yang sayang sama kita’‘biar ada semangat untuk belajar’‘biar nggak malu dengan teman-teman yang pada punya pacar juga’‘sekedar pingin tahu rasanya’dll, masuk akal nggak sih alasan-alasan itu.

Kalo kamu sekedar takut dibilang kuper karena nggak mau pacaran, maka mereka para aktivis pacaran itulah yang sebenarnya orang paling kuper dan kupeng sedunia. Why? Karena saya yakin orang pacaran itu dunianya akan berkutat dari pengetahuan tentang doi aja. Coba kamu tanya apa dia tahu perkembangan teknologi terkini? Apa dia tahu di Palestina itu ada masalah apaan sih? Apa dia juga tahu kalo Amerika itu ternyata adalah teroris sejati?

Paling tahunya cuma apa hobi sang pacar, apa wakna favoritnya, apa makanan kesukaannya, dll. Coba Tanya berapa nilai ulangan matematikanya, fasih nggak bahasa Inggris-nya, bagus nggak karangan bahasa Indonesia-nya, dan hal-hal seputar itu, pasti deh aktivis pacaran pada bloon untuk hal beginian. Kalo pun ada yang pintar, itu sama sekali nggak ada hubungannya dengan pacaran sebagai semangat belajar.

Sebaliknya, pacaran adalah ajang maksiat. Bukankah sudah dikatakan oleh Rasulullah SAW: Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka tidak boleh baginya berkhalwat (berdua-duaan) dengan seorang wanita, sedangkan wanita itu tidak bersama mahramnya. Karena sesungguhnya yang ketiga di antara mereka adalah setan” (HR Ahmad)

Waduh, emang kamu mau jadi temannya setan? Hiii, naudzubillah banget tuh.

Jangan beralasan kamu kuat iman, maka tetep aja ngeyel berdua-duaan. Banyak tuh kasus ngakunya aktivis rohis dan niatnya dakwah eh..malah kebablasan pacaran. Naudzubillah

Jomblo adalah pilihan

Kok bisa? Di saat teman-teman pada risih dengan status jomblo, masa’ sih malah bisa dijadikan status pilihan? Bisa aja, why not gitu loh? Lagian tergantung persepsi kan?

Kondisi jomblo adalah kondisi yang independen, mandiri. Di saat teman-teman cewek lain serasa nggak bisa hidup tanpa gebetan, kamu merasa sebaliknya. Nggak harus jadi cewek tuh aleman, manja, tergantung ke cowok, dan merasa lemah. Huh…jijay bajay banget. Jadi cewek kudu punya pendirian, nggak asal ikut-ikutan. Meskipun teman satu sekolah memilih pacaran sebagai jalan hidup, kamu tetap keukeuh dengan prinsip: “jomblo tapi sholihah”. Huhuy!

Dulu, waktu saya masih duduk manis di bangku SMP dan SMA, ada seorang teman yang ngebet banget pingin punya pacar. Sampe-sampe kalo ada kuis di majalah remaja tentang siap-enggaknya pacaran, doi termasuk yang rajin mengisi untuk tahu jawabannya. Ternyata doi tipe yang sudah siap banget. Akhirnya fokus perhatian dia hanya ke cita-cita pingin punya pacar dan pacar mulu. Prestasi sekolah jadi anjlok. Padahal ternyata nggak ada yang mau sama doi (backsound: Kacian banget!).

Nah, beda kasus dengan muslimah sholihah. Ada atau nggak ada yang mau, dia nggak bakal ambil pusing. Mikirin rumus fisika aja sudah cukup pusing, pake mikir hal lain. Maksudnya, mikirin pacar atau pacaran adalah sesuatu yang nggak penting bagi dirinya. Selain ngabisin waktu dan energi, yang pasti menguras konsentrasi dan emosi. …

Kalo kamu jadi cewek sudah oke, baik di otaknya, kepribadiannya apalagi akhlaknya, jadi jomblo bukan sesuatu yang terpaksa tuh. Malah jomblo adalah sebuah kebanggaan….

Kalo kamu jadi cewek sudah oke, baik di otaknya, kepribadiannya apalagi akhlaknya, jadi jomblo bukan sesuatu yang terpaksa tuh. Malah jomblo adalah sebuah kebanggaan. Kamu bisa tunjukkan kalo jomblo adalah harga diri. Menjadi jomblo bukan karena nggak ada yang mau, tapi kitanya yang emang nggak mau kok sama cowok-cowok anak kecil itu. Lho, kok?

Iya, cowok kalo beraninya cuma pacaran itu namanya masih cowok kecil. Masa’ masih kecil udah pacaran. Huh! Kalo cowok yang udah dewasa, pasti ia nggak berani pacaran, tapi langsung datang ke ortu si cewek dan ngelamar. Merit deh jadinya. Selain menunjukkan tanggung jawab, cowok dewasa tahu kalo pacaran cuma ajang tipu-tipu dan aktivitas berlumur dosa. Hayo…pada berani nggak cowok-cowok kecil itu?

Jomblo Tapi Shalihah
Jangan pernah takut diolok teman sebagai jomblo. Jangan pernah malu disebut nggak laku. Toh, mereka yang berpacaran saat ini belum tentu juga jadi nikah nantinya. Tul nggak? Malah yang banyak adalah putus di tengah jalan, patah hati terus bunuh diri. Hiii, naudzubillah. Atau bisa jadi karena takut dibilang jomblo malah dapat predikat MBA tanpa harus kuliah alias Married By Accident.

Lagipula, cewek kalo mau dipacarin kesannya adalah cewek gampangan. Gampang aja dibohongin, gampang diboncengin, gampang dijamah, dan gampang-gampang yang lain. Idih…nggak asyik banget! Toh, nantinya para cowok itu juga bakal males sama cewek beginian karena udah tahu ‘dalemannya’, mereka pinginnya dapat cewek baik-baik.

Terlepas apa motivasi mereka, yang pasti kamu kudu punya patokan atau standar tersendiri. Kamu nggak mau pacaran karena itu dosa. Kamu memilih jomblo karena itu berpahala dan jauh dari maksiat. Kamu nggak bakal ikut-ikutan pacaran karena takut dibilang jomblo dan nggak gaul. Kamu tetap keukeuh pada pendirian karena muslimah itu orang yang punya prinsip. Itu artinya, kamu selalu punya harga diri atas prinsip yang kamu pegang teguh. Iya nggak seh?

Karena banyak juga mereka yang meskipun sudah menutup aurat dengan kerudung gaul, masih enggan disebut jomblo. Jadilah mereka terlibat affair bernama pacaran sekadar untuk gaya-gayaan. Bener-benar nggak ada bedanya dengan mereka yang nggak pake kerudung. Malah parahnya, masyarakat akan antipati sama muslimah tipe ini. Berkerudung tapi pacaran. Berkerudung tapi masih suka boncengan sama cowok non mahrom. Berkerudung tapi sering berduaan sama cowok dan runtang-runtung nggak jelas juntrungannya. Padahal, kelakuannya yang model begitu itu bisa membuat jelek citra kerudung, imej Islam jadi rusak, dan tentunya doi bikin peluang orang lain untuk menilai dan memukul rata bahwa doi mewakili muslimah. Parah banget!

…predikat jomblo jauh lebih mulia kalo kamu menghindari pacaran karena takut dosa. Menjadi jomblo jauh lebih bermartabat kalo itu diniatkan menjauhi maksiat…

Intinya, predikat jomblo jauh lebih mulia kalo kamu menghindari pacaran karena takut dosa. Menjadi jomblo jauh lebih bermartabat kalo itu diniatkan menjauhi maksiat. Menjadi jomblo sama dengan sholihah kalo itu diniatkan karena Allah semata. Bukankah hidup ini cuma sementara saja? Jadi rugi banget kalo hidup sekali dan itu nggak dibikin berarti. Jadi kalo ada yang rese dengan kamu karena status jomblomu, katakan saja ‘jomblo tapi sholihah, so what gitu loh!’.

Sumber: Dewi Sartika Syarifudin (Siswi SMKN 7 Bandung)

Dari Allah tentang Cinta

Cinta adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Cinta berada di dalam hati kita namun dapat memancar keluar dengan aneka rupa ekspresinya. Cinta dapat membangun akhlak serta mendikte langkah dan tingkah laku kita.

Sebagai seorang muslim, marilah kita lihat apa yang Allah sampaikan tentang cinta di dalam kitab-Nya, Al Qur’an.

Cinta atas kesenangan dunia

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga) [Ali Imran, 3:14]

… mereka (orang-orang kafir) mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat,… [An Nahl, 16:107]

Mengorbankan apa yang dicintai

Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. [Ali Imran, 3:92]

Cinta orang yang beriman

Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. [Al Baqarah, 2:165]

… tetapi Allah menjadikan kamu “cinta” kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus, [Al Hujurat, 49:7]

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad saw.), niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [Ali Imran, 3:31]

Ketika cinta datang dalam hatimu, Engkau dapat tersenyum meski hatimu terluka, Bahkan engkau menangis meski hatimu bahagia, Engkau menjadi terlena dalam merdunya nyanyian cinta, Karena engkau yakin cinta ada dalam hatimu.

Ketika pena cinta melukis dalam hatimu, Ia mampu memainkan warna diatas kanvas bahagia dan sedih, Melukisnya dengan sakit hati, cemburu, iri dan rindu, Namun hatimu tetap mengharapkannya, Itulah warna-warni indahnya lukisan cinta.

Ketika cinta telah datang dalam hatimu, Ia mampu memerahkan hati dan membutakan matamu, Menutup mata hatimu, membawamu melayang sesaat di dunia, Dan engkau tidak beranjak dipeluk merdunya angin bahagia semu, Melukis di kanvas kemewahan duniawi, mengejar kesuksesan hampa, Menguasai sisi gelap mata hatimu dengan kemegahannya, Itulah cinta karena manusia yang dibutakan nafsu materi.

Dari mana sesungguhnya datangnya cinta ?

Cinta adalah pesan agung Allah pada umat manusia, Ditulis-Nya ketika mencipta makhluk-makhluk-NYA di atas Arsy, Membawa ketulusan hati mengalahkan amarah, Meredam benci, mengubur iri dan dengki, Menuju kepatuhan dan pengabdian kepada Allah dan RasulNYA.

Saat pena cinta Illahi telah melukis hatimu, Satu jam mengagungkan asma-Nya, serasa satu menit saja, Setiap hentakan nafasmu adalah memuliakan nama-Nya, Cahaya cintaNya menjadi lentera bagi mata hatimu, Membawa ketundukan dan pengabdian tulus kepadaNYA, Menelusuri dan meneladani jalan para Rasul-NYA.

Namun saat api cinta Illahi dipadamkan oleh dorongan ego dan nafsumu, Alirannya memekatkan darahmu, membutakan mata hatimu dari kebenaran, Membawamu pada jalan kesesatan dan kerendahan.

Belajarlah cinta Illahi yang telah diajarkan Allah, Melalui alam semesta dengan kepatuhannya, Melalui thawafnya gugusan bintang, bulan dan matahari pada orbitnya, Yang tak pernah sedetikpun mau bergeser dari poros ketundukannya, Membawa keharmonisan yang berujung pada keabadian.

Belajarlah cinta Illahi yang telah diajarkan Allah, Karena disaat engkau merasakan agungnya cinta Illahi dalam dirimu, Engkau dapat mengubur perasaan iri, dengki dan amarah dalam dirimu, Menggantinya dengan perasaan empati bagi sesamamu, Mengalirkannya melalui kebaikan demi kebaikan bagi sesamamu.

Cintamu dapat merangkulmu dalam ketulusan ibadah kepadaNYA, Menjadi media amaliyah dalam ketundukan tulus pengabdian kepadaNYA, Menjadi penuntun kepatuhan pada ajaran para Rasul-Nya, Mewarnai kedamaian, kebahagiaan dan kekayaan jiwamu.

Belajarlah cinta yang telah diajarkan Allah, Karena Allah adalah kekasihmu yang abadi, DenganNya engkau akan merasakan kedamaian hati, Dengan cintaNYA engkau akan merasakan kebahagiaan sejati.

Belajarlah mencintai Allah setulusnya, maka Allahpun akan mencintaimu, Belajarlah hanya mengarahkan hatimu kepadaNya, maka Allahpun akan membimbingmu, Karena Allah adalah sumber cinta yang agung dan abadi, Itulah cinta tertinggi menuju kebahagiaan hakiki.

KISAH GOLONGAN MASUK SYURGA TANPA DIHISAB

Diriwayatkan bahawa Rasulullah S.A.W. telah bersabda:

“Apabila telah datang hari kiamat, maka didatangkan 4 golongan manusia di sisi pintu syurga tanpa dihisab dan disiksa, mereka ialah;

1. Orang alim yang mengamalkan ilmunya.
2. Seorang haji yang sewaktu menunaikan haji tidak melakukan sebarang perkara yang membatalkan hajinya.
3. Orang yang mati syahid di dalam peperangan.
4. Dermawan yang mengusahakan harta yang halal dan membelanjakannya di jalan Allah
tanpa riya.

Keempat-empat golongan ini berebut-rebut untuk mendahului memasuki syurga, kemudian Allah memerintahkan kepada Jibrail A.S. menghakimi mereka.

Berkata Jibrail A.S. kepada orang mati syahid, “Apakah yang telah kamu lakukan sewaktu di dunia sehingga kamu hendak masuk ke syurga?”

Berkata orang yang mati syahid, “Aku telah terbunuh dalam peperangan kerana mencari keredhaan Allah.”

Berkata Jibrail A.S., “Dari siapa kamu mendapat tahu tentang pahala orang yang mati syahid?”

Orang yang mati syahid menjawab,”Aku mendengar daripada alim ulama.”

Berkata Jibrail A.S. lagi, “Jagalah kesopanan, jangan kamu mendahului guru yang mengajar kamu.”

Kemudian Jibrail A.S. bertanya kepada yang mengerjakan haji, “Apakah yang kamu telah lakukan di dunia dahulu sehingga kamu hendak masuk ke syurga?”

Berkata yang berhaji,”Aku telah menunaikan haji semata-mata kerana Allah.”

Berkata Jibrail A.S., “Siapakah yang memberitahu kamu tentang pahala haji?”

Berkata yang berhaji, “Aku mendengar dari alim ulama.”

Berkata Jibrail A.S. lagi, “Jagalah kesopananmu, jangan kamu mendahului guru yang mengajar kamu.”

Berkata Jibrail A.S. kepada penderma pula, “Apakah yang kamu lakukan sewaktu kamu di dunia dulu?”

Menjawab si penderma, “Aku telah banyak menderma semata-mata untuk mendapatkan keredhaan Allah S.W.T.”

Jibrail A.S. berkata lagi, “Siapakah yang memberitahumu tentang pahala orang yang menderma kerana Allah?”

Berkata si perderma, “Aku mendengarnya dari para alim ulama.”

Maka Jibrail A.S. pun berkata, “Jagalah kesopananmu, jangan kamu mendahului guru yang mengajar kamu.”

Kemudian orang alim berkata, “Ya Tuhanku, tidaklah boleh aku menghasilkan ilmu kecuali dengan sebab sifat kasih dermawan dan kebaikan orang yang dermawan itu.”

Lalu Allah S.W.T. berfirman yang bermaksud, “Telah benar kata si alim itu, bukakanlah pintu syurga supaya si dermawan masuk dahulu. Kemudian barulah orang-orang lain masuk.”

Nabi Muhammad S.A.W. telah bersabda, “Keutamaan orang alim di atas ahli ibadah itu seperti keutamaan saya di atas orang yang paling rendah di antara kamu.”

Allah S.W.T. berfirman, maksudnya, “Aku Maha Berilmu dan Aku suka kepada orang yang berilmu.”

Al Hassan r.a. berkata, “Tinta para ulama itu ditimbang pada hari kiamat dengan darah orang-orang mati syahid, dan tinta para ulama akan menjadi lebih berat daripada darah para syuhada.”

Rasulullah S.A.W. bersabda, “Jadilah engkau orang alim (yang mengajar) atau orang yang belajar atau orang yang mendengar (pelajaran). Janganlah engkau menjadi orang yang keempat, akan rosaklah engkau.”

Orang bertanya kepada Rasulullah S.A.W., “Amal apakah yang paling utama?”

Rasulullah S.A.W. menjawab, “Berilmu tentang Allah.”

Sabda Rasulullah S.A.W. lagi, “Sesungguhnya Allah S.W.T telah menciptakan kepada keturunan anak-anak Adam lapan perkara, dan dari lapan itu empat perkara bagi penghuni syurga, iaitu:

1. Wajah yang manis dan berseri-seri.
2. Tutur kata yang bersopan.
3. Hati yang bertaqwa kepada Allah.
4. Tangan yang dermawan.

Empat perkara bagi penghuni neraka:

1. Muka yang muram.
2. Tutur kata yang keji.
3. Hati keras yang engkar.
4. Tangan yang kedekut (bakhil).

Sabda Rasulullah S.A.W., “Sendi tegaknya dunia adalah disebabkan empat perkara:

1. Dengan berilmunya para ulama.
2. Dengan keadilan orang yang menjadi pemerintah.
3. Dengan orang kaya yang dermawan.
4. Dengan doanya orang yang fakir.”

Sumber media dakwah

Daulah Abbasiyah: Al-Musta’shim, Korban Pembantaian Tartar

Al-Musta’shim dilahirkan pada 609 H. Ibunya seorang wanita mantan budak bernama Hajar. Nama lengkapnya adalah Al-Musta’shim billah, Abu Ahmad, Abdullah bin Al-Musta’shim bin Al-Mustanshir Billah. Ia adalah khalifah ke-37 (1242-1258 M) atau khalifah Bani Abbasiyah terakhir di Irak.

Khalifah Al-Musta’shim adalah seorang khalifah yang pemurah, penyabar, dan baik agamanya. Perbedaannya dengan sang ayah adalah dari kejelian dan kewaspadaan.

Al-Musta’shim memiliki banyak kelemahan dan terlalu menggantungkan pemerintahannya pada menterinya yang bernama Muayiddin Al-Alqami Ar-Rafidhi, yang berasal dari kalangan Syiah Rafhidah.

Padahal menteri inilah yang banyak melakukan pengkhianatan terhadap negara dengan cara membocorkan rahasia kekuatan negara pada orang-orang Tartar, dengan tujuan agar mereka menyerang dan menghancurkan Dinasti Abbasiyah serta mendirikan kerajaan bagi keturunan Ali.

Penguasaan orang-orang Tartar terhadap Asia tengah dimulai pada 615 H, dengan menguasai Bukhara dan Samarkand. Dalam penaklukan itu mereka membunuh banyak orang dan menghancurkan apa saja yang dilaluinya. Setelah itu, mereka menguasai Bukhara, Samarkand, Khurasan, Ray, Hamadzan, Irak, Azerbaijan, Darband Syarwan, Lan, Lakz, Qafjaq, dan wilayah-wilayah di sekitarnya yang merupakan wilayah Bani Abbasiyah.

Puncaknya pada 656 H, orang-orang Tartar di bawah pimpinan Hulagu Khan sampai ke Baghdad, pusat pemerintahan Bani Abbasiyah. Kedatangan mereka disambut tentara Khalifah Al-Musta’shim. Namun karena semangat dan jumlah tentara yang tidak seimbang, dalam waktu singkat tentara khalifah disapu bersih oleh pasukan Tartar.

Tentara khalifah saat itu bukan tentara Islam yang sebenarnya. Iman yang mulai rapuh, pemerintahan yang korup, semangat tempur yang rendah, perpecahan karena perbedaan kelompok dan kepentingan di antara pimpinan pasukan menjadi penyebab kekalahan tentara Bani Abbasiyah.

Pada 10 Muharram 656 H, pasukan Tartar memasuki Baghdad tanpa mendapatkan perlawanan sedikit pun. Sebagian besar tentara khalifah terbunuh, begitu juga dengan keluarganya. Sang menteri pengkhianat menasihati Khalifah Al-Musta’shim agar datang menemui orang-orang Tartar untuk mengadakan kesepakatan damai.

Ternyata ini hanya siasat sang menteri. Sebab setiap rombongan yang diutus khalifah keluar, langsung dibunuh, dan begitu seterusnya. Peristiwa ini telah banyak menelan korban dari kalangan ulama, fuqaha dan orang-orang penting di sekitar khalifah.

Adapun tentara Tartar yang berhasil memasuki Baghdad mengadakan pesta pembantaian terhadap siapa saja yang melawan atau tidak melawan. Kekejaman pembantaian ini melebihi apa yang dilakukan oleh Nebukadnezar ketika menaklukkan Baitul Maqdis. Selama empat puluh hari, korban yang jatuh dalam peperangan lebih dari satu juta penduduk. Konon selama empat puluh hari itu juga api tak pernah padam di Baghdad.

Setelah selesai dengan pembantaian terhadap khalifah dan penduduk Baghad, Menteri Muayiddin Al-Alqami meminta Hulagu Khan agar mengangkat orang-orang Alawiyin sebagai khalifah. Namun permintaan ini ditolak oleh Hulagu Khan. Bahkan Ibnu Al-Qami dijadikan pelayan mereka dan akhirnya mati dalam keadaan yang mengenaskan.

Belum puas dengan penaklukan Baghdad, Hulagu Khan mengirim surat kepada An-Nashir, penguasa Damaskus, agar menyerah kepada pasukan Tartar. Permintaan ini ditolak.

Pada 658 H, pasukan Tartar menyeberangi sungai Furat dan bergerak menujuk Halb. Mereka pun bersiap-siap menyerang Damaskus. Tentara Mesir yang dipimpin oleh Al-Muzhaffar dan panglima perangnya Ruknuddin Baybars Al-Bandaqari, menyambut kedatangan pasukan Tartar dengan semangat jihad tinggi.

Kedua pasukan bertemu di Ayn Jalut dan pertempuran sengit pun pecah pada 15 Ramadhan. Pasukan Tartar mengalami kekalahan telak dalam pertempuran ini. Sebagian kecil tentara Tartar yang mencoba melarikan diri terus dikejar oleh Baybars hingga ke Halb dan berhasil mengusir mereka dari tanah Arab.

Hingga 659 H, belum juga ada khalifah di dunia Islam. Akhirnya, didirikanlah Khalifah di Mesir dan Al-Mustanshir diangkat sebagai khalifah pertama. Dunia Islam kehilangan kekhalifahan selama 3,5 tahun.

Sebagian besar buku sejarah, ketika memaparkan sejarah para khalifah, berhenti pada Khalifah Al-Musta’shim ini. Padahal ada beberapa Khalifah Abbasiyah berikutnya yang sempat bertahan di Mesir. Mereka masih tergolong Khalifah Abbasiyah yang diakui sejarah. Meskipun wewenang mereka tidak besar, tetapi para penguasa setempat merasa mendapatkan kehormatan jika direstui oleh khalifah yang berada di Mesir.

Bahkan Sultan Bayazid I dari Daulah Ustmaniyah, merasa perlu meminta restu dari khalifah di Mesir, sebelum akhirnya Sultan Salim I mengambil alih khilafah dari tangan Khalifah Al-Mutawakkil III dan mendirikan Khilafah Utsmaniyah di Istanbul, Turki. Baca lebih lanjut